Bank Indonesia Bakal Tahan Kenaikan Bunga Perbankan

Gubernur Bank Indonesia PerryWarjiyo mengatakan kebijakan kenaikan suku bunga acuan dalam dua bulan terakhir tak seharusnya direspons dengan kenaikan bunga perbankan, baik simpanan maupun kredit.

“Karena pada waktu yang sama, kami juga mengeluarkan sejumlah pelonggaran kebijakan agar dampak negatif kenaikan bunga itu tidak berdampak pada pembiayaan perekonomian, khususnya dalam konteks kredit,” ujarnya, di Jakarta, kemarin.

Strategi pelonggaran kebijakan yang dimaksud Perry terkait dengan meningkatkan aturan ratarata giro wajib minimum (GWM) primer menjadi 2 persen, dari sebelumnya 1,5 persen. Dengan demikian, diharapkan likuiditas perbankan akan memadai, sehingga kompetisi menaikkan suku bunga tak perlu terjadi antar-perbankan.

“Kenaikan bunga acuan itu jamu pahit, tapi kami kan juga mengeluarkan jamu manisnya untuk tetap mendorong pertumbuhan ekonomi dan kredit,” kata dia. Menurut Perry, kebijakan yang telah berlaku efektif sejak 16 Juli lalu itu telah dijalankan dengan baik, seluruh bank tercatat memenuhi ketentuan rasio penyangga likuiditas makroprudensial lebih dari 4 persen.

bank

“Banyak juga yang punya rasio di atas 10 persen, sekitar 76 bank. Nah ini artinya mereka tidak hanya punya fleksibilitas dalam manajemen likuiditasnya, tapi juga bisa mendorong ekspansi kredit ke depan,” ujarnya. Selanjutnya, Bank Indonesia juga berupaya mendorong memperluas sumber pendanaan perbankan, agar tak hanya berfokus pada dana pihak ketiga.

“Mereka bisa menggunakan pendanaan dari sumber-sumber lain, seperti pasar uang dan penerbitan surat berharga perbankan,” kata Perry. Deputi Gubernur Bank Indonesia, Erwin Rijanto, menuturkan sejak BI menaikkan bunga acuan 100 basis points (bps), transmisi kenaikan bunga deposito di perbankan telah mencapai 40 bps. Sedangkan suku bunga kredit meningkat 9-12 bps.

“Return of asset (ROA) perbankan merupakan yang tertinggi di dunia, sehingga dia masih punya spread yang sangat besar sekali, jadi seharusnya mereka belum perlu menaikkan bunga,” ujarnya. Direktur PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, Iman Nugroho Soeko, berujar permintaan BI untuk menahan kenaikan bunga perbankan tak mudah untuk dilakukan.

“Dulu ketika tren bunga acuan menurun, BI bilang bank dalam menetapkan pricing bunga deposito dan kredit hendaknya mengikuti atau mendasarkan pada suku bunga acuan BI,” ujarnya.”Jadi kenaikan bunga deposito dan kredit sekarang walaupun tidak linier adalah suatu keniscayaan.”

Iman melanjutkan, risiko peningkatan pengetatan likuiditas juga mulai dirasakan perbankan, khususnya bank BUKU I-III. “Tapi untuk kami sih tidak, karena DPK masih tumbuh 19,1 persen (year on year) di semester 1 tahun ini,” kata dia. BTN pun sejauh ini masih belum meresponsnya dengan kenaikan bunga simpanan atau pinjaman.

“Kami akan terus melihat lagi sampai akhir bulan perkembangan likuiditas yang ada.” Direktur Utama Bank Mayapada, Haryono Tjahjarijadi, menuturkan kenaikan suku bunga acuan memang tak secara otomatis menaikkan suku bunga dana perbankan.

“Tapi kenaikan suku bunga dana ini lebih karena persaingan antarbank di pasar untuk mendapatkan dana masyarakat, jadi kami terpaksa ikut menaikkan deposito dan kredit masing-masing 50 bps,” ujarnya.

Direktur Bisnis PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, Hery Gunadi, menambahkan, di tengah tren kenaikan suku bunga ini, pihaknya berupaya menjaga tingkat rasio kredit macet (NPL) agar tetap terjaga. “Strateginya monitoring kredit menjadi lebih ketat, kami mencari bisnis yang risikonya lebih rendah untuk menjaga NPL juga rendah,” ucapnya.